Pusiang

 


istilah pusiang terdapat dalam bahasa kehidupan sehari-hari orang Minang, dimana arti pusiang adalah pening, sakit kepala terhadap berbagai permasalahan kehidupan yang melanda seseorang, 


sederhananya pusing adalah muncul masalah dan belum selesai. setiap orang tidak lepas dari yang namanya masalah baik masalah kecil, menengah sampai masalah yang besar, bak kata orang bijak itulah namanya kehidupan kalau tidak ada masalah itu bukan kehidupan namanya tetapi itu mungkin sudah di luar alam dunia. 


pusing dalam bahasa lain juga tersebut misalnya dalam bahasa Arab disebut dengan al-mas’alah dari sini juga terbangun kata maslahah  sehingga didalam ilmu ushul fiqh ada satu kaedah umum yang sangat populer jalbul masalih wa darul mafasid, ( meraih kemaslahatan menolak kerusakan). Hal ini terang sekali memberi gambaran kepada kita bahwa dalam hidup ini harus dicari yang terbaik lupakan dan tinggalkan yang yang buruk


masalah adalah sesuatu yang buruk yang tidak disukai, hendaknya jangan menambah-nambah masalah tetapi mengurai masalah menjadi hancur mengurai benang yang kusut jangan pula menegakkan benang basah yaitu sudah tahu salah masih saja dipertahankan dan dibela habis-habisan. 


Apalagi menambah-nambah masalah misalnya masalah kecil diperbesar, sehingga menjadi blunder dan menjadi runyam alias kacau,  seharusnya api yang sudah menyala tadi dipadamkan bersama-sama tetapi terbalik api itu kita tambah pula sehingga berkobar seperti kebakaran hutan dan lahan yang tidak bisa dibendung. 


harusnya saling membendung keras dan cepatnya sebaran kobaran api tersebut, lalu padam semua dapat merasakan ketenangan dan kenyamanan, begitulah kalau saling mendukung bukan menjatuhkan sesama profesi. 


Kalau begitu masalah akan terkerucut karena sudah saling berbagi solusi dan masukan masalah-masalah besar pun segera pamit dan tidak akan pulang lagi, apalagi masalah-masalah yang lain.


Hendaknya memang manusia dewasa dalam menyikapi masalah dalam kehidupannya dengan tenang dan menjauhkan sikap emosi dan menahan amarah. apa kata Rasulullah Saw tentang menahan amarah ini. Orang yang mampu menahan marah disebut oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang kuat. "Bukanlah orang yang kuat itu orang yang mampu dan kuat dalam bergulat, tapi orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah." (HR Bukhari no 5763).


masalah dalam kehidupan ini tidak bisa dielakkan dan pasti akan dienyam setiap individu maupun secara sosial, tidak boleh memposisikan diri sebagai manusia yang tidak pernah lepas dari masalah kalau belum diuji dan dicoba ketahanannya. 


"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, 'Kapan datang pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS al-Baqarah: 214).


Dari ayat tersebut kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran penting yang sangat berharga bahwa ujian dan cobaan bagian dari sunnatullah.  


Hidup harus berani dalam menghadapi  masalah panjang atau masalah pendek dalam hidup dan kehidupan masyarakat, kalau tidak bisa terbenamlah seorang manusia. 


Dibalik kesabaran kita dalam menjalani dan menahan amarah kehidupan ini Allah sudah janjikan surga melalui sabda Rasulullah Saw  : “Jangan kamu marah, maka bagimu surga.” (HR. Thabrani ) . 


Memang marah adalah manusiawi, siapa pun diantara manusia, tetapi marah itu sendiri harus bisa dikendalikan oleh manusia kalau tidak bisa dikendalikan itulah sebab melewati batas sehingga lupa diri.  Rasulullah juga sudah memesankan kepada kita yaitu : Rasulullah Saw bersabda : Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk; apabila amarah telah pergi darinya, (maka itu baik baginya) dan jika belum, hendaklah ia berbaring.” (HR Abu Dawud No 4782).


Bila manusia mampu mengamalkannya hidupnya akan tenang dan damai dalam sehari-hari yang panas menjadi dingin, yang sempit menjadi lapang, yang gelombang menjadi surut, bukankah kehidupan seperti ini yang didambakan oleh manusia . []





Posting Komentar

1 Komentar