Mencari Kekayaan atau Mencari Nafkah, Mana yang harus diutamakan


Sumber : Dokumen Pribadi

 Setelah pulang dari tempat kerja sudah lelah, lesuh, perut lapar karena mencari kekayaan atau nafkah, bagaimana sudut pandang dan pemahaman tentang mencari kekayaan dan mencari nafkah ?

Jawabannya bervariasi, karena perbedaan persepsi diantara manusia dalam memahami sesuatu yang berbeda sudut pandang, kalau sudut pandangnya untuk makan saja tentu ia sekolah untuk mencari makan melepaskan dahaga dan kelaparan saja tidak lebih dari itu
Kalau sudut pandangnya untuk nafkah maka ia bisa menjadi nilai positif yang baik, bisa menjadi amal baik dan berpahala sekalipun sedikit ia akan berkah, tapi kalau mengejar kekayaan hasilnya bisa menjadi angka-angka yang selalu diperebutkan bisa dengan cara yang halal bahkan cara haram pun dibantainya.

Apabila tujuannya dari motif pertama yaitu hanya menggugurkan sesuatu yang konkrit saja, tanpa memperhatikan sesuatu yang abstrak hal ini dinilai kurang kreatif karena tidak ada dinamikanya hanya satu tema saja hidupnya, makan cukup sudah selesai dan ini tidak sampai kepada hakikat hidup ia baru bergelimang pada casing saja, kalau dikoneksikan dengan agama yang merupakan tuntutan nilai dan moral maka ini sudah menyimpang karena agama juga mengajarkan dalam penggalan al-Qur’an surah al-Duha walal akhirotuka khairul laka minal ula, dan akhiratmu lebih baik bagimu dari dunia, kira-kira seperti itu akhirat tidak boleh dikesampingkan tapi malah harus diutamakan untuk kesuksesan hidup di dunia.

Sebaliknya, menonjolkan motif kedua yaitu mencari nafkah, inilah sebaiknya mindset yang harus kita bangun karena nafkah itu sendiri tidak akan mencederai hitung-hitungan, berapa pun hasil yang didapat ia akan mensyukuri hingga tumbuh berkah lalu lahirlah ketenangan dan kenyamanan batin yang bersemayam dalam tubuh

Manusia itu sendiri tidak lepas dari dua dimensi yaitu jasmaniyah dan rohaniyah, keduanya harus mampu diajak dan berembuk untuk hidup seimbang tidak boleh berat sebelah, otomatis akan tumpang tindih dan marabahaya kalau jasmaniyahnya yang dipupuk nafsu akan menguasainya dan mengendalikan segala aktivitasnya, rohaniyah pun begitu kalau tidak diseimbangkan akan mudah menuduh orang lain salah, akan fanatik buta, lalu apa yang baik hidup seimbang antara jasmani dan rohani berjalan sesuai dengan relnya,

Sebab, bila tidak memahami dan mempelajarinya akan banyak yang gagal muda menjalani hidupnya suksesnya macet dan antrian, bayangkan jika jasmaniah saja ia akan memperkaya diri dengan harta, takdir buruk datang habis harta, lenyap, jiwa tak tahan menerimanya ia pun ikut lenyap dengan cara-cara yang tidak dipuji lagi

Kompleksnya hidup ini apabila mampu menjaga keseimbangan disegala hal, terutama dalam mencari nafkah eloknya dibarengi dengan niat beribadah supaya hasil yang dicapai mendukung, alam pun mendukung Tuhan pun meridai, inilah tujuan hidup yang mesti kita pertahankan dan perjuangkan
Tidak mudah tergoda oleh hasutan-hasutan, bisikan-bisikan yang membawa hancurnya keluarga gara-gara mencari dan memperkaya diri, supaya dipanggil sukses, kaya, tajir, tapi hati tidak akan membohongi perasaan muncullah gundah gulana, semuanya ada tapi merasa tidak lengkap, selalu ada bisikan kejar ini kejar itu, ujung-ujungnya yang dikejar tidak dapat-dapat sampai tutup usia, boleh saja kejer sekencang-kecangnya sebagai bentuk usaha kerja keras tapi tetap harus seimbang antara kebutuhan jasmani dan rohani, antara nafkah dan harta antara dunia dan akhirat.

Posting Komentar

0 Komentar