Peringatan Maulid Nabi Saw: Memodifikasi akhlaknya Nabi Muhammad Saw dalam kehidupan beragama dan berbangsa

 

Sudah tidak asing lagi persitiwa apa yang terjadi di bulan hijriyah ini apalagi kalau bukan salah satu bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw yaitu 12 Rabiul Awal tahun gajah disebut orang  karena Abrahah datang menyerang, jenderal Habasah yang sangat garang, datang ke Mekkah hendak berperang. Tentara yang datang menyerang ibarat pasir laksana ilalang tidak terhitung jumlahnya, diatas gajah tombak berjulang. Mereka datang menghancurkan Ka’bah, mengambil Mekkah menjadi jajahan muncullah amarah yang memanas waktu itu.

Kejamnya perlakuan tentara dan pasukan Abrahah merampas anak istri orang, masuk kekampunng bersifat garang, apa yang terlihat diserang, mereka sangat zalim, melakukan penindasan, membunuh wanita dan anak, merampas harta, merampas ternak, mereka tidak paham aturan perang mereka hanya bersifat kejam dan garang, merampas sambil serang menyerang (Atceh, tt) begitulah situasi waktu itu sehingga Abdul Muthallib mendengar berita haknya dirampas berupa onta. Lahirlah Rasulullah Saw pemimpin umat Islam tepatnya 50 hari sesudah tahuan gajah tersebut, ada yang berpendapat 58 hari sesudahnya, ada juga yang berpedanpat 10 tahun sesudahnya, adapun pendapat yang benar adalah tahun gajah.

Sejak Nabi dilahirkan beliau sudah tidak lagi melihat ayahnya sudah wafat ketika beliau masih dalam kandungan ibunya, sebagaimana kebiasaan atau budaya Arab waktu itu setiap anak lahir disusukan kepada perempuan yang lain, dengan maksud agar mendapatkan udara desa yang masih bersih dan pergaulan masyarakat yang baik bagi pertumbuhan anak-anak. (Nasution, 2017) alasan lain juga waktu itu Aminah ibunda Nabi Saw kondisi ekonomi masih lemah tidak adak wanita-wanita Arab yang mau mengasuh Nabi Muhammad Saw, kecuali Halimah, hingga akhirnya  Nabi disusukan dikabilah Bani Sa’ad, ibu susunya bernama Halimah al-Sa’diyah sepanjang Halimah menyusui Nabi Muhammad Saw banyaklah keberkahan hidup datang kepadanya kambing kambing yang mereka pelihara menjadi gemuk-gemuk ari susunya menjadi banyak sehingga kehidupan mereka yang suram berubah menjadi penuh bahagia dan kedamaian. (Nasution, 2017, p. 31)selama empat tahun kemudian disaat itu juga terjadi pembelahan dada Rasullah Saw oleh malaikat Jibril dikampung tersebut, akhirnya beliau pun dikembalikan kepada ibunya. (Katsir, 2003, p. 32) kejadian pembelahan dada Nabi Muhammad Saw membuat kepanikan dan cemas oleh Halimah al-Sa’diyah dan ia bersegera melihat Nabi Muhammad  Saw ke tempat pengembalannya sampai disana Muhammad tampak berdiri di depan kemahnya dalam keadaan segar bugar, Halimah dengan kekhawatirannya nafasnya masih terengah-engah ia bertanya kepada Muhammad Saw “apa yang terjadi dengan dirimu anakku ? ibu yang mana tidak takut ketika mendengar anaknya mau dibelah dadanya, Muhammad Saw mampu menenangkan ibunya dengan nada tenang ia menjawab”tidak apa-apa bu, hanya dua orang laki-laki yang orangnya kelihatan masih muda berpakaian rapid an bagus, mereka menghampiriku seraya memberikan salam kepadaku lalu mereka berkata”wahai Muhammad jangan takut aku  tidak akan menyusahkan dirimu, selanjutnya mereka membaringkan diriku atas rumput dibukanya bajuku dan selanjutnya dibelahnya dadaku, mereka mengeluarkan sesuatu dari dalam dadaku, didadaku dibasahi dengan air lalu mereka memasukkan lagi ke dalam dadaku dan menutupnya seperti sedia kala, sedikit pun aku tidak merasakan sakit tak ada bekas luka pada dadaku, setelah itu kedua orang itu kembali ke ufuk yang tinggi sekali dengan kecepatan yang luar biasa dan menghilang dibalik awan.

Mendengar cerita Muhammad itu, Halīmah merasa bangga dan gembira mendapati anaknya dengan baik-baik saja hatinya semakin yakin bahwa Muhammmad itu nanti menjadi kebanggaan umat manusia. (Amanah, 1992, p. 23) terbukitlah do’a ibunya bahwa Muhammad Saw memang seorang manusia utusan Allah Swt bahkan jauh sebelum Nabi dilahirkan telah diceritakan tentang nūr Muhammad Saw sebagaimana yang tertulis didalam kitab daqāiq al-ikhbār :

“telah datang dialam khabar sesungguhnya Allah yang Maha Luhur menciptakan pohon yang memiliki 4 cabang, kemudian Dia menamainya syajarat al-yaqīn (pohon keyakinan). Lalu Dia menciptakan Nūr Muḥammad didalam tutup yang terbuat dari mutiara yang berwarna putih seperti burung merak. Allah meletakkannya diatas pohon itu, kemudian dia bertasbih diatas pohon itu selama 70.000 tahun, kemudian Allah menciptakan kaca malu, kemudian diletakkan didepan burung merak itu (Nūr Muhammad) ketika burung merak itu (Nur Muhammad) melihat didalamnya dia melihat sebaik-baik rupa dan seindah-seindah bentuk, namun dia malu kepada Allah dan mengelaurkan keringat, kemudian terteteslah dari 6 tetes, Allah yang Maha Luhur menciptakan sahabat Abu Bakar ra dari tetes pertama, dari tetes kedua Allah menciptakan Sahabat Umar bin Khattab ra. Dari tetes ketiga Allah menciptakan Utsman bin ‘Affān ra, dari tetes keempat Allah menciptakan Sahabat Ali bin  Abi Thalib ra, dari tetes kelima Allah menciptakan bung mawar dari tetes keenam Allah menciptakan beras...” (al-Rahim, tt)

Jadi jauh sebelum bumi diciptakan Allah Swt ternyata sudah diciptakan Nūr Muḥammad Saw untuk petunjuk bagi manusia dikemudian hari dan itu terbukti sampai sekarang ajaran yang dibawa oleh Nabi Saw sampai sekarang masih relevan dan diamalkan oleh seluruh penjuru dunia kita tidak bisa membayangkan bila ajaran yang ditampilkan, praktekkan oleh Nabi Saw kita tidak menjumpainya apa jadinya kita hari ini mungkin praktek-praktek hidup kejahiliahan bisa saja masih berkembang, terjadi penindasan, diskriminasi, dan akhlak yang buruk. Sebagai ummatnya harus banyak mengingatnya dan bersolawat kepada Nabi Saw itulah identias kita kartu pengenal kita kepada Nabi Saw.  Bila kita lihat suasana bangsa Indonesia hari ini tumbuh suburnya saling fitnah, memfitnah, hate spech, hoaxs, sengaja diguyurkan untuk menimbulkan konflik nasional dimanakah ajaran Nabi Saw tersebut diletakkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab atas kegaduhan tersebut, mengaku sebagai umat Nabi Saw tapi perilakunya tidak bisa dikonversi kepada yang dicontohkan oleh Nabi Saw, beliau contoh terbaik sepanjang sejarah dalam berbagai lini kehidupan, dengan sifatnya yang siddiq, amanah, tabligh, dan fatonah, tidak pernah balas dendam terhadap musuh-musuh yang menyerangnya padahal beliau mempunyai kekuatan yang ditawarkan oleh Jibril apakah dua gunung ini aku himpitkan kepada mereka musuh Nabi Saw kata Jibril tapi apa jawab Nabi Saw  jangan, “mereka belum mengetahui” betapa mulianya hati Nabi Saw.

Dalam riwayat lain diceritakan membela umat manusia yang hendak ingin di hukum massal oleh masyarakat. Arab Badwi yang mengencingi masjdi Nabi Saw hampir melayang nayawanya oleh sahabat-sahabat Nabi Saw waktu itu

حَدَّثَنَا أَبُو اليَمَانِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي المَسْجِدِ، فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ، فَقَالَ لَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

 

“ telah menceritakan kepada kami Abu al-Yamān berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari al-Zuhrī berkata telah mengabarkan kepadaku ‘Ubaydullah bin ‘Abd Allah bin ‘Utbah bin Mas’ud bahwa Abu Hurairah berkata, seorang Arab Badui beridir dan kencing dimasjid lalu orang-orang ingin mengusirnya maka Nabi Saw pun bersabda kepada mereka:” biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air, atau dengan seember air, sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk membuat kesulitan. (al-Bukhari, 1422)

Rasulluah Saw lebih mengedepankan kedamaian diatas emosinal bila dibandingkan dengan kondisi kita bisa terbalik dengan apa yang dipraktekkan oleh Nabi Saw kalau itu misalnya terjadi ditempat kita sudah terbayang bahwa orang tersebut akan diperlakukan dengan tidak baik disamping ada juga satu dua yang menolong namun lebih dominan orang membalas dan minta pertanggung jawaban, bagaimana misalnya suara dominan tadi berpihak kepada yang berbuat tidak senonoh tapi dengan suara yang positif denga memberikan perlindung tanpa main hakim sendiri dan kebrutalan yang masif. Secara tidak sadar ini akan menimbulkan atau menjawab permasalahn yang ada bukan malah menambah masalah yang bertubi-tubi kalau misalnya berbalas pantun artinya saling membalas katakanlah masyarakat memassal orang bersalah tadi tentu masalah baru lagi datang yaitu main hakim sendiri siapa yang bertanggung jawab disitu tapi bayangkan kalau mengedepankan perdamaian seperti yang dilakoni oleh Nabi Saw tentu menutup pintu masalah dan membuka pintu keberkahan diantara manusia hal inilah yang harus menjadi prinsip bagi setiap kelompok maupun pribadi dalam setiap ruang waktu kehidupan yang dilewati.

Peringatan maulid ini harus dijadikan transformasi ruhaniah kepada setiap individu bahkan kelompok masyarakat agar mengikuti rekam jejak Nabi Saw untuk future bangsa dan agama yang lebih baik lagi. Belakangan ini moral itu sudah tidak berpower lagi dalam diri insaniyah terkalahkan oleh nafsu yang selalu menggoda syahwat manusia baik syahwat pribadi maupun syahwat politiknya, alangkah indahnya ahklak Nabi Saw mampu membendung rasa dendamnya kepada musuhnya, meredam jiwa yang panas sudah sewajarnya bahkan harus kita bawakan sifat-sifat terpuji Nabi Muhammad Saw tersebut dalam diri dan umumnya dalam kehidupan berbangs dan bernegara ini agar negara menjadi negara yang aman, damai tanpa ada pertumpahan darah, negara yang makmur, adil, dan sejahtera, amin sollu alan Nabi.

 

 


Bibliography

al-Bukhari, 1422. Shahih Bukhari. Beirut : Dār Tawq al-Najāh .

al-Rahim, I. A., tt. Daqāiq al-Ikhbār fi Zikr al-Jannar wa al-Nār. Semarang : Toha Putra .

Amanah, S., 1992. Sejarah Nabi Muhammad Saw. Semarang: Thoha Putra .

Atceh, A. B., tt. Sejarah Hidup Nabi Muhammad Saw Bersadjak. Cirebon : Messir Tjirebon .

Katsir, A.-H. I., 2003. Sirah Nabi Muhammad. Kuwait: Daar Ghiras.

Nasution, S., 2017. Sejarah Perkembangan Peradaban Islam. Pekanbaru : Asa Riau .

 

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar