Sudah tidak asing lagi persitiwa apa yang terjadi di bulan hijriyah ini apalagi kalau bukan salah satu bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw yaitu 12 Rabiul Awal tahun gajah disebut orang karena Abrahah datang menyerang, jenderal Habasah yang sangat garang, datang ke Mekkah hendak berperang. Tentara yang datang menyerang ibarat pasir laksana ilalang tidak terhitung jumlahnya, diatas gajah tombak berjulang. Mereka datang menghancurkan Ka’bah, mengambil Mekkah menjadi jajahan muncullah amarah yang memanas waktu itu.
Kejamnya perlakuan tentara dan pasukan Abrahah
merampas anak istri orang, masuk kekampunng bersifat garang, apa yang terlihat
diserang, mereka sangat zalim, melakukan penindasan, membunuh wanita dan anak,
merampas harta, merampas ternak, mereka tidak paham aturan perang mereka hanya
bersifat kejam dan garang, merampas sambil serang menyerang
Sejak Nabi dilahirkan beliau sudah tidak lagi
melihat ayahnya sudah wafat ketika beliau masih dalam kandungan ibunya,
sebagaimana kebiasaan atau budaya Arab waktu itu setiap anak lahir disusukan
kepada perempuan yang lain, dengan maksud agar mendapatkan udara desa yang
masih bersih dan pergaulan masyarakat yang baik bagi pertumbuhan anak-anak.
Mendengar cerita Muhammad itu, Halīmah merasa
bangga dan gembira mendapati anaknya dengan baik-baik saja hatinya semakin
yakin bahwa Muhammmad itu nanti menjadi kebanggaan umat manusia.
“telah datang dialam khabar sesungguhnya Allah
yang Maha Luhur menciptakan pohon yang memiliki 4 cabang, kemudian Dia
menamainya syajarat al-yaqīn (pohon keyakinan). Lalu
Dia menciptakan Nūr Muḥammad didalam tutup yang terbuat dari mutiara yang
berwarna putih seperti burung merak. Allah meletakkannya diatas pohon itu,
kemudian dia bertasbih diatas pohon itu selama 70.000 tahun, kemudian Allah menciptakan
kaca malu, kemudian diletakkan didepan burung merak itu (Nūr Muhammad) ketika
burung merak itu (Nur Muhammad) melihat didalamnya dia melihat sebaik-baik rupa
dan seindah-seindah bentuk, namun dia malu kepada Allah dan mengelaurkan
keringat, kemudian terteteslah dari 6 tetes, Allah yang Maha Luhur menciptakan
sahabat Abu Bakar ra dari tetes pertama, dari tetes kedua Allah menciptakan
Sahabat Umar bin Khattab ra. Dari tetes ketiga Allah menciptakan Utsman bin ‘Affān
ra, dari tetes keempat Allah menciptakan Sahabat Ali bin Abi Thalib ra, dari tetes kelima Allah
menciptakan bung mawar dari tetes keenam Allah menciptakan beras...”
Jadi jauh sebelum bumi diciptakan Allah Swt
ternyata sudah diciptakan Nūr Muḥammad Saw untuk petunjuk bagi manusia
dikemudian hari dan itu terbukti sampai sekarang ajaran yang dibawa oleh Nabi
Saw sampai sekarang masih relevan dan diamalkan oleh seluruh penjuru dunia kita
tidak bisa membayangkan bila ajaran yang ditampilkan, praktekkan oleh Nabi Saw
kita tidak menjumpainya apa jadinya kita hari ini mungkin praktek-praktek hidup
kejahiliahan bisa saja masih berkembang, terjadi penindasan, diskriminasi, dan
akhlak yang buruk. Sebagai ummatnya harus banyak mengingatnya dan bersolawat
kepada Nabi Saw itulah identias kita kartu pengenal kita kepada Nabi Saw. Bila kita lihat suasana bangsa Indonesia hari
ini tumbuh suburnya saling fitnah, memfitnah, hate spech, hoaxs, sengaja
diguyurkan untuk menimbulkan konflik nasional dimanakah ajaran Nabi Saw
tersebut diletakkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab atas kegaduhan
tersebut, mengaku sebagai umat Nabi Saw tapi perilakunya tidak bisa dikonversi
kepada yang dicontohkan oleh Nabi Saw, beliau contoh terbaik sepanjang sejarah
dalam berbagai lini kehidupan, dengan sifatnya yang siddiq, amanah, tabligh,
dan fatonah, tidak pernah balas dendam terhadap musuh-musuh yang menyerangnya
padahal beliau mempunyai kekuatan yang ditawarkan oleh Jibril apakah dua gunung
ini aku himpitkan kepada mereka musuh Nabi Saw kata Jibril tapi apa jawab Nabi
Saw jangan, “mereka belum mengetahui” betapa
mulianya hati Nabi Saw.
Dalam riwayat lain diceritakan membela umat
manusia yang hendak ingin di hukum massal oleh masyarakat. Arab Badwi yang
mengencingi masjdi Nabi Saw hampir melayang nayawanya oleh sahabat-sahabat Nabi
Saw waktu itu
حَدَّثَنَا أَبُو اليَمَانِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ
بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ،
قَالَ: قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي المَسْجِدِ، فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ،
فَقَالَ لَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعُوهُ وَهَرِيقُوا
عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّمَا
بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ
“ telah menceritakan kepada kami Abu al-Yamān
berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari al-Zuhrī berkata telah
mengabarkan kepadaku ‘Ubaydullah bin ‘Abd Allah bin ‘Utbah bin Mas’ud bahwa Abu
Hurairah berkata, seorang Arab Badui beridir dan kencing dimasjid lalu
orang-orang ingin mengusirnya maka Nabi Saw pun bersabda kepada mereka:”
biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air, atau dengan
seember air, sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak
diutus untuk membuat kesulitan.
Rasulluah Saw lebih mengedepankan kedamaian
diatas emosinal bila dibandingkan dengan kondisi kita bisa terbalik dengan apa
yang dipraktekkan oleh Nabi Saw kalau itu misalnya terjadi ditempat kita sudah
terbayang bahwa orang tersebut akan diperlakukan dengan tidak baik disamping
ada juga satu dua yang menolong namun lebih dominan orang membalas dan minta
pertanggung jawaban, bagaimana misalnya suara dominan tadi berpihak kepada yang
berbuat tidak senonoh tapi dengan suara yang positif denga memberikan
perlindung tanpa main hakim sendiri dan kebrutalan yang masif. Secara tidak
sadar ini akan menimbulkan atau menjawab permasalahn yang ada bukan malah
menambah masalah yang bertubi-tubi kalau misalnya berbalas pantun artinya
saling membalas katakanlah masyarakat memassal orang bersalah tadi tentu
masalah baru lagi datang yaitu main hakim sendiri siapa yang bertanggung jawab
disitu tapi bayangkan kalau mengedepankan perdamaian seperti yang dilakoni oleh
Nabi Saw tentu menutup pintu masalah dan membuka pintu keberkahan diantara
manusia hal inilah yang harus menjadi prinsip bagi setiap kelompok maupun
pribadi dalam setiap ruang waktu kehidupan yang dilewati.
Peringatan maulid ini harus dijadikan
transformasi ruhaniah kepada setiap individu bahkan kelompok masyarakat agar
mengikuti rekam jejak Nabi Saw untuk future bangsa dan agama yang lebih baik
lagi. Belakangan ini moral itu sudah tidak berpower lagi dalam diri insaniyah
terkalahkan oleh nafsu yang selalu menggoda syahwat manusia baik syahwat
pribadi maupun syahwat politiknya, alangkah indahnya ahklak Nabi Saw mampu
membendung rasa dendamnya kepada musuhnya, meredam jiwa yang panas sudah
sewajarnya bahkan harus kita bawakan sifat-sifat terpuji Nabi Muhammad Saw
tersebut dalam diri dan umumnya dalam kehidupan berbangs dan bernegara ini agar
negara menjadi negara yang aman, damai tanpa ada pertumpahan darah, negara yang
makmur, adil, dan sejahtera, amin sollu alan Nabi.
Bibliography
al-Bukhari, 1422. Shahih
Bukhari. Beirut : Dār Tawq al-Najāh .
al-Rahim, I. A., tt. Daqāiq al-Ikhbār fi Zikr al-Jannar wa al-Nār. Semarang
: Toha Putra .
Amanah, S., 1992. Sejarah Nabi Muhammad Saw. Semarang: Thoha
Putra .
Atceh, A. B., tt. Sejarah Hidup Nabi Muhammad Saw Bersadjak. Cirebon
: Messir Tjirebon .
Katsir, A.-H. I., 2003. Sirah Nabi Muhammad. Kuwait: Daar Ghiras.
Nasution, S., 2017. Sejarah Perkembangan Peradaban Islam. Pekanbaru
: Asa Riau .

0 Komentar