Malayan Gupak: Sebuah Pelajaran Berharga


Sumber : Pexels.com/hson/27084607
Di sore hari, penulis terasa jenuh apa yang mau dikerjakan apalagi di hari libur daripada bingung tak ada kegiatan lebih baik isi kekosongan dengan kegiatan itulah yang disebut malayan gupak sebuah bahasa berasal dari Tapanuli Selatan bahasan Batak Angkola ataupun Mandailing yang berarti ‘mengasah parang’.

Malayan gupak atau mengasah parang terdapat dan tersimpan pelajaran penting diantaranya mengasah sehingga sering terdengar kata-kata bijak parang kalau tak asah akan tumpul laksana ilmu kalau tidak diamalkan ia akan tumpul walaupun sekolah tinggi sampai tingkat doktor kalau tak diasah akan tumpul kalau tidak belajar atau dengan kata lain berhenti pada gelar dan wisuda saja maka tumpullah ilmunya.

Imam al-Syafi’i pernah berkata : meski berpendidikan tinggi dan memiliki gelar berjajar, bisa jadi akan terbelakang dan tertinggal jika berhenti belajar.

Mau tidak mau siapa dan apa pun pangkat jabatan yang berderet di pangkal dan diujung nama kalau berhenti belajar selama itu kita akan tertinggal jauh dibelakang yang seharusnya didepan dan terdepan karena sudah menjadi orang uang berilmu.

Asah dan asah terus menerus berkesinambungan merupakan jalan yang paling lurus untuk mengekalkan ilmu secara permanent didalam dada dan hati

Asah golok, parang merupakan simbolis untuk menjadi pelajaran kepada semua manusia. Walaupun penulis tidak begitu mahir dalam mengasah parang, setidaknya waktu kecil pengalaman mengasah parang itu sudah tampak dari seorang kakek yang sangat mahir dan ahli dalam menggunakan alat-alat pertanian, modal mengingat-ingat inilah terasa seperti masih sama seperti diasah kakek dulu hanya beda masanya saja

Ditambah sebentar lagi mau mendekat hari raya idul adha atau hari raya Qurban para panitia Qurban harus serba ekstra terutama petugas penyembelihan pisaunya harus benar-benar tajam agar sapi atau kerbau dan kambing tidak tersiksa ketika kita menyembelih dan menghalakannya

Hal ini juga menjadi entri poin dari pelajaran penting dari asah golok bahwa pisau yang tumpul akan menyayat kerbau, lembu secara paksa dan hasilnya tidak akan maksimal ibrahnya kepada kita adalah segala sesuatu sebelum melakukan perbuatan hendaknya dipersiapkan secara matang tidak asal jadi

Kalau parang sudah tajam hewan yang disembelih pun terlihat tidak tersiksa dan sangat baik secara Islam yang makannya pun enak dan berkah, salah satu cerita dari sang tukang jagal ia pernah bercerita biasanya kambing walaupun sudah direndang masih terasa amis nya, dan ada sedikit bau, dengan penyembelihan secara baik kambing itu akan terasa enak dimakan oleh siapa pun tergantung cara penyembelihan dan caranya.

Begitu juga pelajaran pentingnya yang bau akan menjadi harum kalau pisau sudah tajam diasah, masalah rumit akan enteng kalau dipikirkan secara matang tanpa buru-buru, yang sempit jadi luas karena sudah dicari letak masalahnya.

Gelap menjadi terang, karena sudah dicari penerang nya, yang tidak tahu sudah menjadi tahu karena sudah dicari ilmunya. Sunyi jadi ramai, dari individu menjadi kolektif, dari berat menjadi ringan, begitu seterusnya kalau terus diasah ibarat asah golok atau parang tadi.

Sebaliknya, bila tak pernah asah segera berputar arah 90 derajat dari terang menjadi gelap, dari tajam menjadi tumpul, sedangkan diasah sebaik-baiknya pun belum tentu hasil maksimal dan sempurna apalagi sama sekali tidak pernah diasah, bahkan sebagian sudah merasa mampu dan tak perlu mengulang lagi dan tidak perlu asah lagi sehingga jatuh kepada sifat sombong yang membuat celaka kepada setiap orang. Asah otak, asah ilmu adalah untuk kesuksesan.[]


Oleh : Mara Ongku Hsb, MH 

Founder Kemasyarakatan


Posting Komentar

1 Komentar