Makna Penghidupan yang Sempit

 

 

 

 


وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى

Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Q.S. Thaha [20]:  124)

Dalam tafsir Mahmud Yunus, menyebutkan bahwa sebab sengsaranya kehidupan seseorang karena ia berpaling tidak mengikuti perintah Allah itulah al-Qur'an kitab suci, dari itu jangan heran kalau zaman sekarang ini banyak ditimpa beberapa kesusahan dan penghidupan yang sengsara (ekstrim) karena menerka tidak mengikuti menurut peraturan al-Qur'an bahkan setengahnya tidak pernah membaca al-Qur'an sambil memperhatikan isinya bahkan ada yang membacanya untuk semata-mata dilagukan untuk menyenangkan hati. [1]

Makna dari berpaling dari peringatan Allah adalah, pertama mereka tidak menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup padahal al-Qur’an adalah sebagai hudan ( petunjuk) bagi semua manusia, kalau tanpa al-Qur’an kita tidak tahu seperti apa jadinya hidup kita hari ini tentunya kacau balau tak terurus dengan rapi seperti seindah kehidupan kita zaman sekarang ini.

Kedua, tidak membaca dan mengamalkan isi al-Qur’an, betapa banyak hari ini kita lihat pandai membaca dan menghafal al-Qur’an sampai 30 juz tetapi tidak ada pengamalannya belum mampu menghidupkan al-Qur’an sebagai sesuatu yang hidup dalam kehidupannya bukan hampa dan kosong.

Ketiga, menurut Ibn Katsir adalah makna orang yang berpaling dari peringatan Allah adalah mereka yang menentang perintah Allah dan mengambil petunjuk lain selain petunjuk Allah SWT, dan mereka akan hidup dalam batin yang sulit.

Kehidupan yang sulit

Maksud dari kehidupan yang sulit dalam ayat tersebut adalah siapa yang berpaling dari peringatan Allah akan diberikan kehidupan yang sempit yaitu kehidupan yang risau, gersang, stres tidak ada ketenangan dalam hidupnya meskipun materi hartanya melimpah. Kehidupan tanpa arah dulu sebelum dapat kerja risau, setelah dapat kerja pun risau, dulu sebelum wisuda risau, setelah wisuda risau, memang hidup ini tidak terlepas dari risau, perasaan takut, penyebab orang berpaling dari Allah.

 

Dalam keadaan buta kelak

    • Di dunia tidak “melihat” kebenaran  di akhirat buta dari kebaikan.
    • Tidak memiliki hujjah atau pembelaan di hadapan Allah. Makna buta juga sebagai Simbol ketidakberdayaan dan kehinaan bagi mereka yang tidak mau “melihat” kebenaran selama hidupnya.
    • Mereka protes: “Kenapa kami buta?” lalu dijawab bahwa mereka telah memilih untuk tidak melihat petunjuk saat di dunia.

         Maka  jangan heran kalau hidup kita sempit, susah, risau, galau, itu penyebanya adalah karena berpaling dari Allah, oleh karena itu solusinya adalah seperi dalam pengajian bersama Bapak Dr.Zulkayandri harus kembali kepada Allah, taubat, tawaju, kembali kehadapan Allah maka ayat diatas siapa yang berpaling dari Allah diancam kehidupan yang sempit (ma’isyata-andankā). 

        Bahkan siapa yang lari dari Allah akan diseret dengan rantai bala Hal ini terdapat dalam al-Hikam sebagai berikut :

من لم يقبل على الله بملاطفات الاحسان قيد اليه بسلاسل الامتحان

siapa  yang tidak suka menghadap ( mendekat) kepada Allah dengan halusnya pemberian karunia dari Allah, maka akan diseret supaya ingat kepada Allah dengan rantai ujian (bala’)

 

Ada orang tak mau mendekat kepada Allah padahal Allah telah berbuat baik kepadanya, memberinya kelapangan rezeki  memberinya karunia maka terpaksa Allah membuatnya mendekat degan rantai ujian dengan rantai masalah, maka ketika kita punya masalah akhirnya mendekat kepada Allah

 

        Musibah-musibah yang kita terima adalah boleh jadi adalah cara Allah agar kita mendekat kepada-Nya jadi terpaksa dengan cara diberikan musibah agar kita mau mendekat kepada Allah. Begitulah kalau tak pandai mensyukuri nikmat Tuhan padahal betapa baiknya Allah kepada kita tak bisa kita ukur.

        Hal ini juga dijelaskan lebih lanjut oleh Ibn Athaillah al-Sakandari dalam al-Hikam itu orang yang tidak  menyuskuri nikmat Tuhan berarti ia berusaha untuk hilangnya nikmat itu sebaliknya siapa yang syukur atas nikmat tersebut berarti ia telah mengikat nikmat itu dengan kokoh.

        Ali bin Abi Thalib yang dikutip oleh Ibn Qoyyim “tidaklah musibah turun melainkan karena dosa, karena itu tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan tobat” ia juga melanjutkan diantara akibat berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan mendatangkan bencana (musibah) . maka momentum bulan Muharram ini adalah esesnsinya hijrah dengan meninggalkan dosa, dalam hadits Nabi Saw :”seorang yang berhijrah adalh orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah SWT”  (HARI. Bukhari, Abu Daud, al-Nasa’i, Ahmad, dan Ibn Hibban )

        Maka jadikan Al-Qur’an sebagai panduan hidup, bukan hanya dibaca tetapi juga diamalkan.

        Ingatkan bahwa kebahagiaan sejati ada dalam kedekatan dengan Allah, bukan sekadar harta atau status. Jangan biarkan jiwa kita kering meski harta kita basah. Jangan biarkan hati kita sempit meski rumah kita luas. Dekatkan diri kita dengan Al-Qur’an, jadikan ia petunjuk dalam setiap langkah. Lapangkan hati kita dengan zikrullah, dan hidupkan jiwa kita dengan ibadah. Semoga kita tidak tergolong sebagai orang yang dibangkitkan dalam keadaan buta. Semoga hidup kita lapang, damai, dan berkah.

        Ingat, Kebahagiaan sejati, hubungan dengan Allah, bukan harta atau status. Al-Qur’an sebagai pelita jiwa. Tanpa peringatan-Nya, manusia hidup dalam kehampaan.  Bahwa kesempitan hidup bisa dialami siapa saja, dari presiden hingga jamaah

        Biasakanlah  membaca al-Qur'an setiap hari, meskipun beberapa ayat untuk membersihkan rohani dan mengingat Allah. 

 



[1] Mahmud Yunus,  Tafsir Qur’an Karim, (Jakarta : Hidakarya Agung, 2002), hlm. 463




Posting Komentar

1 Komentar