Saat ini disemua penjuru dunia diguncangkan dengan
Covid-19 dikhawatirkan dengan virus Corona ini yang sudah mencuat kepermukaan
hingga banyak cara untuk mengatasinya baik itu dari segi agama, sosial, budaya,
dan intruksi pemerintah. Melihat fakta yang ditemukan dilapangan banyaknya
korban kebiadaban virus Corona ini sampai-sampai di Italia satu hari Corona
berhasil menyebarkan virusnya dan menebas +600 Jiwa manusia (sumber koran Riau Pos, 22 Maret
2020). Bahkan di Pekanbaru Riau sudah positif Corona salah satu warga di Aur
Kuning Marpoyan ketika 13 Maret lalu dia berkunjung ke Malasysia dalam rangka
kegiatan keagamaan. Kejadian ini sangat
memperhatinkan disemua kalangan, dan hampir seluruh penjuru dunia sudah waspada
tentang hal ini, dan pemerintah sudah melakukan terobosan-terobosan baru
membuat surat edaran tidak sampai disitu bahkan terjun langsung mengumumkan
lewat megaphone kepada masyarakat agar tidak keluar dari rumah dan tidak pergi
ketempat-tempat umum dan keramaian.
Kebijakan pemerintah saat ini sangat tepat siaga
pemberitahuan (notifikasi) kepada rakyat hampir menyamai pesan-pesan
medsos di android kita, tujuannya agar tidak menjadi korban keganasan Corona,
dan itu harus dihargai oleh masyarakat kebijakan dan instruksi pemerintah,
namun kebijakan terjadi kontradiktif yang halus menurut sebagian kalangan
karena efeknya mengurangi kegiatan yang sudah biasa dilakukan seperti kegiatan
keagamaan yang sudah lazim dilakukan ditengah masyarakat seperti shalat
berjamaah, acara-acara pengajian yang sifanya mengumpulkan keramaian karena
menurut penelitian virus Corona beroperasi lewat hubungan sesama manusia dimana
itu setiap hari bahkan setiap saat dilakukan, sehingga muncul istilah menjaga
jarak (sosial distancing), atau
‘pembatasan sosial’ adalah menghindari tempat umum, menjauhi keramaian, dan
menjaga jarak optimal 2 meter dari orang lain. Dengan adanya jarak, penyebaran
penyakit ini diharapkan dapat berkurang. bahkan ada istilah lock
down berarti karantina wilayah, yaitu pembatasan pergerakan
penduduk dalam suatu wilayah, termasuk menutup akses masuk dan keluar wilayah.
Penutupan jalur keluar masuk serta pembatasan pergerakan penduduk ini dilakukan
untuk mengurangi kontaminasi dan penyebaran penyakit Covid-19 (disadur dari Alo
Dokter), kalau sudah positif Corona barulah di Isolasi yaitu pemisahan
antara orang yang sudah sakit dengan yang tidak sakit.
Hari ini masyarakat masih ragu
apakah Corona ada atau tidak karena
penyebaran virusnya tidak terlihat oleh mata hanya melihat di berita dan
media sosial, online dan lain sebagainya, walaupun tidak begitu terlihat ril
oleh mata kita namun masyarakat tetap percaya bahwa virus itu memang ada sehingga mengikuti saran-saran pemerintah
dokter, tokoh agama tokoh masyarakat terbukti seperti dilihat disebagian
masjid-masjid Pekanbaru sudah menggulung sajadah untuk mencegah mewabahnya
virus Corona, yang menjadi dilema ditengah masyarakat salah satunya kegiatan
keagamaan wacana mengganti shalat Jum’at dengan shalat zuhur, shalat dirumah
namun ini sudah menjadi kajian dan sudah menjadi keputusan MUI beberapa hari
yang lalu melalui surat edarannya dan ada dalil-dalil yang sahih karena
mengancam jiwa manusia dalam al-Qur’an bahwa kita tidak boleh menjatuhkan dalam
kebinasaan, juga dimasa Nabi Saw ketika ada hujan saja jalan becek kumandang
azan hayya ala al-shalāt diganti dengan shalatlah dirumah masing-masing
apalagi ada wabah virus Corona, dalil-dali ushul fiqh seperti “menolak
mafsadah didahulukan daripada meraih maslahat” kaidah ini sangat relevan dengan kondisi saat
ini, para ulama mufti al-Azhar Mesir berfatwa boleh menghentikan jamaah dan
jum’at demi menghindari penyebaran virus Covid-19, dalil-dalil diatas harusnya
menjadi perhatian setiap muslim dalam menjawab persoalan-persoalan yang tengah
marak Covid-19 ditengah masyarakat hari ini, dan bisa mengambil jalan tengah
untuk menjaga keseimbangan (balanced), karena dengan adanya dalil itu
sudah seperti jalan yang akan kita ambil dalam mengambil tindakan dan itu shahih
pendapat ulama yang mereka sudah gali dari berbagai sumber, sisi lain dari
perspektif masyarkat hari ini ialah Corona datang dari Allah dan juga
kesembuhan datang dari Allah maka tetap menganut keyakninan yang kuat yang
dipahami oleh mereka peran ulama hampir terkesampingkan dengan egoisme,
keyakian yang kuat memang akan membuahkan hasil yang bagus hal itulah yang
ditekankan oleh sebagian masyarakat atas nama jamaah diberbagai sudut kota dan
ditengah kota, tetaplah ulama dan umara menjadi ikutan kita, bahkan muncul
istilah yang memugar lebih baik mati didalam masjid beribadah shalat berjamaah
dari pada dirumah menghindari Corona yang belum terlihat jelas oleh kasat mata
dan sulit dideteksi namun penyebaraannya sangat cepat, menyikapi hal ini
menurut penulis tidak ada salahnya kita mengikuti instuksi ulama dan pemerintah
hari ini demi mewujudkan keselamatan umat manusia di dunia ini dari virus yang
berbahaya ini dengan cara-cara yang efektif seperti membersihkan secara teratur
tempat ibadah kita masing-masing, shalat berjamaah dimasjid namun mulailah
dengan kewaspadaan yang tinggi pada tempat shalat kita agar tidak terjangkit
virus Corona tersebut, berkaca kepada Bahtsul Masāil Syuriyah Nahdlatul Ulama Jawa Timur tentang Covid-19
mengenai pembatasan shalat Jum’at dan kegiatan keagamaan lainnya diantaranya adalah : 1) bagi orang yang berada
didaerah kategori aman, maka tetap wajib melaksanakan shalat jum’at dan tetap
dianjurkan melakukan kegiatan keagamaan lain seperti biasany. 2) bagi orang
didaerah yang telah dinayatakan terdapat penyebaran virus Corona, namun tetap
dalam kondisi sehat, maka mereka tetap berkewajiban melakukan shalat Jum’at
selama tidak khawatir terdampak virus tersebut. 3) bagi orang yang sudah terkonfirmasi
positif terjangkit virus Corona, maka hukumnya haram menghindari kegiatan
keagamaan yang melibatkan banyak massa semisal shalat Jum’at. 4) bagi orang
yang suspect (diduga kuat terjangkit virus Corona) dan PDP (pasien dalam
pengawasan; sudah dirawat oleh tenaga kesehatan/menjadi pasien) boleh
meninggalkan shalat Jum’at. (Sumber : Keputusan Bahtsul Masail Syuriah PWNU
Jawa Timur tentang Covid-19 17 Maret 2020 di RSI Siti Hajar Sidoarjo Nomor:
643/PW/A-II/L/III/2020). Oleh karena itu mari kita sesuaikan kondisi keadaan
tempat sekitar kita masing-masing dimanapun berada agar tidak menjadi dilema
dan tetap utamakan kewaspadaan yang tinggi dan budayakan sifat mencegah jangan
menunggu sudah turun hujan tapi sedia payung sebelum hujan sebelum virus Corona
membentuk struktur dan siasat untuk menyerang tubuh kita dan seluruh jiwa
manusia karena kita cinta sehat dan cinta sesama manusia, peran ulama dan umara
harus kita junjung dan tidak mengesampingkan instruksi dan pendapat para ulama.

0 Komentar