Seperti ada yang hilang

Seperti ada yang hilang
Oleh : Mara Ongku Hsb

             Setelah beberapa hari masjid di lock down dengan tujuan untuk memutus mata rantai covid-19 ada sebagian masyarakat yang masih memanjakan egoismenya dengan membuat wajah yang bukan lagi wajah aslinya menghilangkan wajah keharmonisan yang sesungguhnya untuk sementara waktu penyebabnya bisa saja karena ada sesuatu yang berubah dari biasanya dan karena sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang candu sehingga bila tiba-tiba dirubah terjadi perubahan yang drastis, korban wajah yang emosional itu adalah orang yang membuat perubahan tersebut, sebelumnya orang yang membuat kebijakan tersebut sudah siap dengan apa pun yang akan terjadi karena yang namanya kebijakan pasti ada plus minusnya, sudah tidak lagi pembicaraan rahasia tapi sudah menjadi hal yang umum didengar publik.
    Semua kebijakan pasti sudah ada tujuannya dalam term  hukum Islam disebut dengan maqāsid syari’ah (tujuan syariah ) begitu juga dengan kebijakan pemerintah dan fatwa ulama hari ini sama yaitu mempunyai tujuan yang sama dengan tujuan hukum Islam yaitu untuk kemaslahatan masyarakat, dimana sekarang ini wabah virus Corona yang mengguncang ketenangan jiwa hari ini, untuk menanggulangi hal tersebut pemerintah dan ulama sudah mengambil jalan yang tepat dengan membuat solusi-solusi alternatif seperti lock down,  dan lain sebagainya. 
    Dengan himbaun pemerintah agar tetap dirumah (stay at home) adalah langkah tepat agar tidak terjangkit virus Corona sebagian masyarakat cara seperti ini sudah tepat agar mengurangi dan meminimalisir keganasan Corona tersebut, namun ini menjadi tidak adil bagi sebagian masyarakat yang lain karena terjadi inflasi  ekonomi yang derastis katakanlah seperti pedagang pasar yang sumber ekonominya berasal dari jualan dipasar  merupakan rumah research dalam kelangsungan hidup sehari-hari kini researcah nya dicoba ditunda karena ada musibah wabah yang sampai kejam dari penjajahan  yang berangkat senjata karena semi peperangan ini musuh tidak terlihat oleh mata.
    Penangkalan wabah Corona ini hampir semua ditutup yang biasanya beroperasi setiap hari seperti rumah makan, warnet, sekolah-sekolah diliburkan ujian nasional ditiadakan proses belajar mengajar ditunda dan dibuat sekolah online seperti dengan memakai classroom untuk membantu lancarnya kegiatan proses belajar mengajar,  bahkan juga tempat ibadah seperti masjid sudah diinstruksikan untuk shalat dirumah masing-masing dengan catatan untuk sementara waktu jum’atan juga diganti dengan zuhur dalam hal dalil ini sangat jelas sekali dan dijelaskan oleh para ulama kita dari negara bahkan dari Timur Tengah seperti dari Al-Azhār Mesir.
    Diterapkannya instruksi tersebutlah membuat marah disebagian kalangan masyarakat karena merasa shalat perintah Allah ditukar dengan instruksi pemerintah bahkan muncul adagium “masa lebih takut ke Corona daripada takut kepada Allah”  hal ini sudah pernah terjadi dimasa Umar bin Khattab ketika akan melaksanakan perjalanan menuju Syam namun ada juga sahabat pendamping yang berkata : “ tuan sudah niat baik untuk beribadah kepada Allah Swt kita lanjutkan saja perjalanan ini” namun Umar bin Khattab tidak sependapat dengan rombongannya karena bagi Umar bin Khattab “ dari taqdir yang satu pergi ke taqdir yang lain.’ Umar memutuskan untuk kembali pulang ke Madinah dan menggagalkan perjalanan tersebut, ini menjadi contoh bagi belakangan ini apalagi sedang menghadapi wabah virus Corona ini sekalipun meninggalkan tujuan yang baik seperti ibadah shalat tetapi menyelamatkan diri menyelamatkan jiwa manusia Allah Swt lebih menyuruh hal tersebut bukan malah berserah diri menjemurkan badan ke tengah virus yang sedang beropera        si karena jelas Allah Swt melarangnya dalam kalamnya al-Qur’an  surah al-Baqarah[2]: 195 sebagai berikut :
        “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, (Q.S. al-Baqarah[2]: 195)
    Maka Allah Swt melarang keras bagi hambanya mencerburkan diri kedalam lobang yang berbahaya jelas-jelas sudah ada wabah tidak boleh semena-mena dengan menghadang dengan style yang berani. Ibn Katsir menjelaskan tentang ayat ini dahulu pada peperangan Konstatinopel kalangan anshar menyerang musuh secara langsung hingga ia dibakar sehingga ada yang bertertiak “ dia telah menjatuhkan diri kedalam kebinasaan” namun kata Ayyub al-Anshari kamilah yang lebih tahu dengan maksud ayat tersebut.
    Dalam riwayat lain ketika pasukan musuh mengarahkan yang besar dan kaum muslimin di kota Konstantinopel yang sama menyusun barisan pasukan untuk mengahadapinya, salah satu dari kaum muslimin meneobos masuk kebarisan Romawi hingga berada ditengah-tengah mereka, sehingga orang berteriak lagi :”subhanallah, ia telah menjerumuskan dirinya kedalam kebinasaan.”, namun Ayyub membalasanya kalian tidak tahu dan salah menafsirkan ayat tersebut bahwa kamilah yang lebih dahulu habis dirampas hartanya jika kami mau memperbaiki kerusakan kami yang telah hilang tentu lebih baik mengumpulkan harta benda dan menyibukkan dengannya.
    Menurut Ibn ‘Abbas makna ayat diatas adalah hendaknya kamu tetap berinfak dijalan Allah Swt, sebagian ulama menafsirkan kalimat al-tahlukat (kebinasaan) tersebut adalah perbuatan dosa dan maksiat, jika dihubungkan dengan konteks sekarang bila kila terus ego tidak mengikuti instruksi bisa saja kita yang dilarang Allah Swt untuk berbuat dosa karena kita pasrah tanpa adanya ikhtiar, tanpa ada persiapan sejalan juga dengan makna yang paling kuat dari ayat diatas al-tahlukat (kebinasaan) itu adalah tidak mau berjihad dijalan Allah karena sibuk dengan harta, keluarga, dan anak. Berjihad disini menghindari virus corona juga bagian dari jihad karena penyerangganya lebih exstrim  tidak terlihat oleh kasat mata, bahkan Allah Swt memberi standar dan kedudukan yang sama orang yang gugur menghadapi wabah mendapatkan pangkat syahid, sebagaiman dalam hadits Nabi Saw sebagai berikut : 
عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ؟ فَأَخْبَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ                                                                                          
      “Dari ‘Aisyah r.a. istri Nabi Saw dia berkata : “aku bertanya kepada Rasulullah Saw tentang   wabah thā’un  (wabah yang membahayakan), maka Rasulullah Saw menyampaikan kepadaku :” bahwasanya wabah thā’un  ini adalah azab yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Swt jadikan sebagai rahmat bagi orang yang beriman, seseorang yang berdiam dan menetap dirumahnya, dalam keadaan bersabar dan berharap serta yakin kepada Allah Swt  bahwa Allah Swt tidak akan menimpakan kepadanya kecuali apa yang ditetapkan Allah Swt untuknya, maka dia akan mendapatkan seperti pahala orang yang mati syahid. “ (HR. Ahmad )
Hadits diatas lebih memperkuat lagi sikap kita bila menghadapi wabah atau virus Covid-19 ini instuksi pemerintah dan anjuran ulama sejalan dengan hadits Nabi Saw berabad-abad yang lalu, sudah jelas bagi kita dan tidak bisa kita pungkiri lagi, peniadaan shalat berjamaah dimasjid adalah untuk sementara waktu namun prakteknya pengakuan para jamaah merasa seperti ada yang hilang karena biasanya maghrib berjmaah, maghrib mengaji, membuat hati jadi adem kini sementara ditiadakan karena ada wabah bukan saja terjadi pada diri kita tetapi juga di zaman-zaman klasik masa Umar bin Khattab juga telah ada dengan begitu kita dapat menyingkap tabir sejarah Islam klasik dan wabah corona ini tentu kita jadikan sebagai ibrah bahwa ini adalah keaguangan dan kebesaran Allah makhluk yang sangat kecil saja atau virus Corona yang tak terlihat oleh mata mampu menggoncang dunia ini, tentu semua ini kita kembalikan kepada Allah Swt agar virus Corona segera diangkat dan yang rasa kehilangan itu muncul lagi.   

Posting Komentar

0 Komentar